There’s Never Been A Better Time: Cyber Security Defence

Jakarta, 14 Desember 2016. Saat ini perkembangan digital ekonomi dan teknologi semakin pesat. Hal ini tentunya menciptakan kesempatan bagi perusahaan untuk terus berkembang pula, namun disaat yang bersamaan para hacker dan cyber crime juga tentunya mengambil peluang ditengah-tengah perkembangan yang terjadi. Dengan melihat kondisi tersebut, PT Perkom Indah Murni menyelenggarakan seminar setengah hari dengan tema “There’s Never Been A Better Time: Cyber Security Defence.”

Cyber Security Defence - PT Perkom Indah Murni

Sesi ini dibawakan oleh Arief Santoso dari Cisco. Di acara ini, Microsoft juga memberikan sesi dengan tema Modern Mail System yang dibawakan oleh Erika Untung.

Dengan diberikan pembekalan mengenai cara kerja para hacker dan cyber crime, serta bagaimana melakukan tindakan preventif, serta cara mengatasi hal tersebut, Perkom berharap perusahaan dapat terlindungi dari para hacker dan cyber crime. Tak hanya itu, Perkom juga ingin perusahaan memiliki keamanan secara jaringan maupun email pula yang merupakan sarana komunikasi utama dalam perusahaan.

Kegiatan ini berlangsung di Jasmine Room, Hotel Intercontinental Jakarta.

Mengenal Microsoft Azure

Dalam perkembangan cloud computing yang cukup pesat di Indonesia saat ini, salah satu nama yang mencuat adalah Windows Azure. Teknologi bentukan Microsoft ini adalah sebuah bentuk implementasi Platform as a Service (PaaS) dari sebuah cloud computing. Teknologi ini memungkinkan kita untuk membangun sebuah aplikasi melalui cloud, baik berupa teknologi web application, cloud service,  maupun aplikasi-aplikasi yang berjalan di atas virtual machine.

microsoft-azure-stack-services

Salah satu yang menjadi keunggulan Windows Azure adalah kemampuan untuk menjalankan aplikasi dari berbagai jenis teknologi dan platform, diantaranya adalah .NET (sebagai teknologi dari Microsoft), JAVA, dan juga PHP.

Berdasarkan sejarahnya, teknologi ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2008 dan terus dikembangkan sehingga menjadi komersial secara umum pada tanggal 1 Februari 2010.

Terdapat tiga buah komponen dari teknologi Windows Azure, diantaranya adalah :

  1. Compute : Merupakan bagian dari teknologi Windows Azure yang berguna dalam proses komputasi, baik secara foreground maupun background job (berjalan di belakang layar). Compute tools dari Windows Azure diantaranya adalah web role, worker role, dan virtual role.
  2. Storage : Merupakan bagian dari teknologi Windows Azure yang berguna dalam proses penyimpanan data. Terdapat dua jenis storage dalam Windows Azure, yang pertama adalah Azure Storage yang berguna untuk penyimpanan data yang berbentuk table, cloud, dan blob. Sementara itu, bentuk storage lainnya adalah SQL Azure yang merupakan versi SQL Server yang berjalan di cloud.
  3. Fabric : Merupakan bagian yang berguna sebagai “otak” dari teknologi ini. Proses ini diatur oleh Windows Azure Fabric Controller yang berguna dalam proses scheduling, resource allocation, dan management.

Windows Azure bersandar pada teknologi REST (Representational State Transfer) sehingga proses komunikasi antar aplikasi dapat dilakukan dengan menggunakan protokol HTTP. Abstraksi dari konsep Windows Azure dapat dilihat pada gambar di bawah ini  :

Sumber: blog.programmableweb.com

Terdapat dua buah key properties yang membuat Windows Azure unggul dibandingkan kompetitornya, diantaranya adalah :

  1. Resource Elasticity : Kita dapat melakukan penyesuaian resource yang dibutuhkan secara real-time oleh suatu aplikasi yang berjalan. Sebagai contoh : apabila suatu aplikasi hanya tinggi traffic nya pada waktu-waktu tertentu (misalnya aplikasi pemilu), maka tentunya kebutuhan resource hanya tinggi pada saat tertentu saja. Oleh karena itu, kita dapat melakukan setting resource dengan menggunakan resource rendah pada saat jumlah akses rendah, dan meningkatkan kapasitas resource apabila sedang mencapai peak time.
  2. Geo-aware : Windows Azure berjalan di atas data center Microsoft yang tersebar luas di seluruh dunia. Pada saat pengembangan aplikasi cloud, pengembang dapat memilih data center yang terdekat dengan mereka sehingga tingkat konektifitas menjadi lebih tinggi. Sebagai contoh, apabila kita membuat suatu aplikasi pemilu di daerah eropa, maka sebaiknya resource-resoure yang kita gunakan (database, dll) berada di daerah eropa. Hal ini telah diimplementasikan pada teknologi Windows Azure. Ilustrasi dari konsep ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Internet Of Things

Internet Of Things, sebuah istilah yang belakangan ini mulai ramai ditemui namun masih banyak yang belum mengerti arti dari istilah ini. Sebetulnya hingga saat ini belum ada pengertian atau definisi standar mengenai Internet of Things, namun secara singkat Internet of Things bisa dibilang adalah di mana benda-benda di sekitar kita dapat berkomunikasi antara satu sama lain melalui sebuah jaringan seperti internet.

Ide awal Internet of Things pertama kali dimunculkan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999 di salah satu presentasinya. Kini banyak perusahaan besar mulai mendalami Internet of Things sebut saja Intel, Microsoft, Oracle, dan banyak lainnya.

Banyak yang memprediksi bahwa pengaruh Internet of Things adalah “the next big thing” di dunia teknologi informasi, hal ini karena IoT menawarkan banyak potensi yang bisa digali. Contoh sederhana manfaat dan implementasi dari Internet of Things misalnya adalah kulkas yang dapat memberitahukan kepada pemiliknya via SMS atau email tentang makanan dan minuman apa saja yang sudah habis dan harus distok lagi.

Bagi pengembang, kini banyak perusahaan yang menyediakan berbagai macam program untuk membantu pengembang dalam mengembangkan produk berbasis IoT. Salah satu yang menyediakan program ini adalah Intel dengan IoT Developer Program mereka.

video-iot

Internet of Things(IoT) yang digadang-gadang sejak 20 tahun lalu sebagai teknologi masa depan kini mulai dapat dilihat berbagai manfaatnya. Berbicara tentang IoT erat kaitannya dengan teknologi yang saling terhubung dan mudah diakses. Inovasi berlabel “smart” kini mulai gencar diberitakan, mulai dari smart home, smart car hingga smart city. Smart city adalah salah satu yang kini gencar dibangun di Indonesia sebagai salah satu langkah modernisasi dan adopsi teknologi ke sektor yang lebih luas.

Salah satu smart city yang sudah mulai dibangun adalah di kota Makassar. Program yang disponsori Telkom Indonesia ini saat ini telah memiliki beberapa layanan yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat setempat, diantaranya berupa e-office, e-kelurahan, e-puskesmas hingga media pengaduan masyarakat yang dibuat secara digital berbasis website dan mobile. Digitalisasi sederhana ini menjadi salah satu langkah terciptanya smart city.

Lalu, apakah Indonesia sudah siap secara SDM (Sumber Daya Manusia) dan infrastruktur untuk mengadopsi IoT secara masif di berbagai sektor saat ini dengan melihat landscape teknologi yang ada? Menurut Tony Seno Hartono selaku National Technology Officer Microsoft Indonesia, pemrograman IoT tidaklah sulit di sisi device dan banyak SDM lokal yang bisa melakukannya, meskipun kebanyakan baru di tingkat hobi dan belum ditekuni secara profesional. Selain itu, Tony juga menambahkan, bahwa belum banyak yang menyadari bahwa potensi IoT besar sekali.

“Dari berbagai kegiatan kami di bidang kompetisi pemrograman, hal ini terlihat, misalnya para siswa membuat aplikasi menggunakan smart devices yang terhubung ke komputasi awan,” ujar Tony kepada DailySocial. “Infrastruktur yang kita miliki sebenarnya sudah cukup untuk mendukung IoT. Karena tidak semua sensor IoT membutuhkan koneksi internet (atau bahkan listrik) setiap waktu selama 24 jam. Semua itu tergantung penggunaannya untuk apa.”

IoT sendiri membutuhkan server yang selalu hidup. Dan di sisi lain ada banyak alternatif, misalnya menggunakan data center milik sendiri atau yang tersedia di internet. Untuk skala penerapan IoT yang masif, server cloud akan lebih masuk akal.

Selain Makassar, Bandung kini juga dikabarkan akan segera menerapkan prototipe smart city. Bahkan Telkom Indonesia menargetkan hingga akhir 2014 akan terdapat 20 kota yang akan dimasuki IoT dengan menerapkan teknologi smart city di wilayah tersebut.

Ditengah hingar bingarnya pemanfaatan IoT, HP Research sempat mengeluarkan publikasi tentang kerentanan perangkat IoT terhadap serangan hacker. Lalu apakah Indonesia siap untuk menanggulangi tantangan ini, terutama dalam hal keamanan perangkat IoT?

“Resiko negatif mungkin karena awareness terhadap keamanan dan privasi yang masih rendah. Banyak orang membuat suatu solusi IoT misalnya untuk memonitor keamanan rumah, namun lupa dari sisi keamanan dan privasi, sehingga begitu layanan dihidupkan maka peretas [hacker] segera punya akses ke sistem ini dan bisa melakukan penyusupan.” ujar Tony menanggapi isu keamanan pada implementasi IoT. “Saya melihat resiko negatif ini jauh lebih sedikit daripada manfaatnya yang luar biasa yang masih belum tergali sampai saat ini.”

IoT adalah bagian dari masa depan yang sudah mulai terealisasikan. Perencanaan yang baik akan meminimalisir berbagai risiko yang dihadapi. Indonesia yang sudah mulai beranjak dewasa dalam mengadopsi teknologi kini sudah siap untuk menyambut digitalisasi yang mulai merasuk ke sendi-sendi kehidupan yang lebih dalam.